Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts
Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts

Tuesday, August 16, 2011

Menghadapi Kanker pada Anak


Memiliki anak yang menderita kanker tentu sangat menyedihkan, bahkan bagi keluarga yang tabah sekalipun. Pendekatan terbaik adalah bersikap jujur pada anak soal penyakitnya itu dan selalu berikan dukungan.
Kanker yang paling sering diderita anak-anak adalah  leukimia, limfoma, retinoblastoma (kanker mata), dan kanker tulang adalah jenis kanker yang umumnya menyerang anak-anak.

Hal itu berarti anak tetap mengikuti jadwal, peraturan, serta aktivitas keluarga. Ini berarti orangtua tidak bersikap overprotektif atau melindungi anaknya secara berlebihan.
Sasaran dari pengobatan kanker anak-anak bukan hanya mengatasi kankernya tetapi juga membantu anak bisa terus bersikap normal sesuai dengan tingkatan usianya. Meskipun anak Anda penting untuk didukung dan dihibur, juga penting untuk memelihara hidupnya senormal mungkin.
Kata kuncinya cuma satu, berikan dukungan seoptimal mungkin. Jangan pernah dijauhi dan dikucilkan. Tetap pandang dia sebagaimana anak-anak pada umumnya, tanpa harus diproteksi,” ujarErwin Fauzi, koordinator relawan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, yang ditemui di Rumah Sakit Dharmais, Rabu, (6/7/2011).
Menurut Erwin, proteksi berlebihan akan mendorong kondisi psikologis dan emosional seorang anak menjadi tidak stabil. Sehingga bukannya menyembuhkan, tetapi justru akan membangkitkan sel kanker.
“Kalau suasana hati tidak nyaman itu akan mendorong sel kanker dalam tubuh jadi lebih aktif,” imbuhnya.
Selain memberikan dukungan dan kebebasan, satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah bersikap jujur mengenai penyakit anak. "Anak yang tidak diberitahu tentang penyakitnya akan membayangkan sesuatu yang sama sekali tidak benar," katanya.
Misalnya, seorang anak mungkin akan berpikir bahwa penyakit kanker yang dideritanya merupakan hukuman bagi dirinya akibat melakukan suatu kenakalan atau kesalahan tertentu.
“Disepakati bersama bahwa dengan memberitahu, akan membuat anak menjadi tidak terlalu stres dan merasa bersalah. Anak berhak tahu soal penyakitnya. Berapa pun usianya,” jelasnya.
Lebih lanjut Erwin mengatakan, anak-anak yang mengetahui keadaan sebenarnya akan lebih mudah untuk diajak bekerjasama terutama dalam proses pengobatan yang harus dijalaninya. Selain itu, membicarakan masalah kanker dengan anak akan membawa suasana keluarga menjadi lebih dekat dan dimudahkan dalam menghadapinya.

Efek Sugesti Multivitamin pada Perokok


 Bahaya rokok terhadap kesehatan tampaknya sudah diketahui dengan baik oleh para pecandu rokok. Namun karena tidak kuasa menghentikan kebiasaan buruknya, mereka berdalih rutin mengonsumsi suplemen multivitamin akan menjaga kesehatan mereka.

Dalam penelitian yang dilakukan Chiou tidak terbukti suplemen multivitamin akan menghilangkan efek buruk rokok, malah dengan mengonsumsi suplemen dan yakin mereka sehat, frekuensi merokok menjadi meningkat.

"Perokok yang minum suplemen setiap hari sebenarnya hanya menyugesti diri sendiri bahwa mereka terlindungi dari risiko kanker dan penyakit lain," kata Wen-Bin Chiou, ketua peneliti dari National Sun Yat-Sen University, Taiwan.
Para peneliti membagi 154 orang pecandu rokok menjadi dua kelompok. Pada penelitian pertama, 74 perokok diberikan placebo. Separuh responden diinformasikan bahwa itu adalah pil gula, sementara sisanya diberi tahu mereka mendapat suplemen vitamin C.
Kemudian para perokok tersebut diminta mengisi catatan mengenai survei selama mereka diijinkan merokok. Mereka yang mendapat suplemen vitamin C merokok lebih banyak dibanding kelompok yang mendapat plasebo. Kelompok perokok yang mendapat vitamin C juga mengaku mereka merasa lebih baik.
Pada percobaan kedua, dilakukan pada 80 pecandu rokok yang juga dibagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah mereka yang diberitahu mendapat multivitamin dan sisanya diberitahu hanya mendapat plasebo. Seperti pada eksperimen pertama, perokok yang mengira mereka mengonsumsi multivitamin merokok lebih banyak dibanding kelompok kontrol.
Lebih lanjut lagi, perokok yang diberi multivitamin tersebut merokok lebih sering terutama karena mereka percaya multivitamin akan meningkatkan kesehatan.

Tips Anti Cerai dalam Berkeluarga


Mungkin sebagian dari teman-teman di sini bertanya-tanya, bergunakah tips anti cerai dari seorang yang belum genap setahun menikah ? Orang yang belum merasakan sulitnya menjaga keluarga dengan baik sehingga mampu langgeng sampai tua.

Satu hal yang mendasari saya membuat artikel ini adalah bacaan menarik dari Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families.
Nah kalau itu yang ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah saya membagi tips tentunya bukan berdasarkan pengalaman saya, tetapi dari pengalaman pasien dan ilmu dasar perilaku manusia yang menjadi keahlian saya.
Jadilah pilot dan co-pilot
Dalam bukunya Stephen Covey mengatakan bahwa sebagai pasangan suami istri, dalam mengarungi rumah tangga bisa mengambil perumpamaan pilot dan co-pilot pesawat terbang. Beberapa hal yang beliau tekankan dan saya sendiri dapatkan dari beberapa pengalaman pasien dan analisis perilakunya adalah sebagai berikut :
1. Pelatihan
Menjadi pilot dan co-pilot butuh pelatihan. Untuk menjadi ahli dalam mengemudikan pesawat terbang seorang harus kursus sampai dinyatakan siap menjadi seorang pilot yang mampu menerbangkan pesawat. Bahkan dalam setiap penerbangan manual book selalu dibawa pilot sebagai persiapan kalau-kalau ada bahaya di dalam penerbangan. Itu pula yang terjadi dalam persiapan sebelum menikah.
Kesiapan jiwa dan raga perlu untuk memasuki pernikahan. Materi saja belum tentu cukup, kesiapan mental terutama kesiapan untuk berkomitmen adalah yang paling utama. Pelatihan ini bisa didapatkan dari kehidupan masing-masing pasangan, pola asuh dan nilai keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter. Masa pacaran juga terkadang bisa menjadi masa uji coba kesiapan walaupun belum tentu semuanya sama dengan masa menikah nanti.
Jangan lupa pula menambah pengetahuan dari buku-buku yang baik dalam memberikan pengetahuan tentang menjalankan rumah tangga.
2. Tujuan Yang Sama
Pilot dan co-pilot sebelum menerbangkan pesawat akan menentukan arah tujuan pesawatnya. Berapa ketinggiannya, berapa kecepatannya, arah mana yang akan ditempuh semua didiskusikan dan ditentukan sebelum pesawat berjalan. Begitu juga dengan pernikahan.
Suami sebagai pilot dan istri sebagai co-pilot juga perlu mempunyai tujuan yang sama. Tidak akan baik hasilnya jika suami dan istri berbeda tujuan. Komunikasikan tujuan ini bersama karena pesawat rumah tangga ini akan dibawa oleh kita berdua dengan pasangan.
3. Persiapan menghadapi badai
Terkadang dalam perjalanan pesawat kita menghadapi badai dan turbulensi. Untuk itu terkadang pilot dan co-pilot harus mengubah haluan pesawat atau mendarat di bandara terdekat. Semuanya didiskusikan dengan segera untuk keselamatan bersama. Begitupun juga dalam perkawinan.
Seringkali badai datang mengganggu rumah tangga. Hal ini perlu disadari oleh kedua belah pihak jika ingin mengubah haluan. Bicarakan antara suami dan istri tentang apa yang harus dilakukan. Tentukan tujuan baru dan komunikasikan dengan baik dan efektif. Harapannya agar tujuan rumah tangga tetap merupakan hasil keputusan berdua.
Semoga tips di atas bisa sedikit banyak mengingatkan kita kembali akan tujuan kehidupan rumah tangga kita.
Salam Sehat Jiwa !

Saturday, August 13, 2011

1 dari 5 Penduduk Aceh Berpotensi Gangguan Jiwa


 Jumlah penderita gangguan jiwa di Aceh 1 persen lebih tinggi dibanding wilayah lain. Diperkirakan, 1 dari 5 penduduk Aceh berpotensi mengalami gangguan jiwa. Konflik 30 tahun dan tsunami menjadi penyebab utama.
Hal itu disampaikan Direktur Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh Saifuddin Abdurrahman dalam forum tanya jawab di Kantor Gubernur Aceh yang dihadiri Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Senin (8/8).

”Jika penduduk Aceh saat ini 4,5 juta jiwa, berarti jumlah penderita gangguan jiwa ada 45.000 orang. Ini bagian dari dampak tekanan jiwa yang dialami akibat trauma masa konflik selama 30 tahun dan bencana tsunami yang masih tersisa,” kata Saifuddin.
Saifuddin mengatakan, secara teoretis, dalam satu wilayah terdapat minimal 1 persen penyandang gangguan jiwa. Namun, di Aceh penyandang gangguan jiwa di atas 2 persen.
Ironisnya, sarana dan prasarana pengobatan penderita gangguan jiwa sangat minim. Di Provinsi Aceh hanya ada satu rumah sakit jiwa. ”Di RSJ Banda Aceh saat ini ada 650 pasien dari kapasitas yang semestinya hanya 300 orang. Akibatnya, banyak pasien harus tidur di kasur yang diletakkan di lantai,” kata dia.
Menanggapi hal itu, Agung Laksono berjanji akan menindaklanjuti dalam rencana program berikut berupa pembangunan infrastruktur penunjang rumah sakit jiwa. (HAN)

Punya Anak Bisa Bikin Sehat


Hampir setiap pasangan suami istri pasti mendambakan hadirnya sang buah hati. Namun, dalam beberapa situasi, ada sebagian pasangan yang sengaja menunda untuk mempunyai momongan. Namun, tahukah Anda bahwa kehadiran buah hati akan membuat hidup Anda lebih sehat.
Berikut ini sejumlah manfaat kesehatan yang dapat Anda peroleh dengan kehadiran momongan di tengah-tengah kehidupan Anda:
1. Menurunkan tekanan darah Anda 
Sebuah studi terbaru dari Brigham Young University menemukan bahwa 
menjadi orangtua dapat membantu Anda menurunkan tekanan darah.Peneliti mengamati 200 pasangan yang telah menikah untuk memonitor tekanan darah selama 24 jam. Hasilnya, ditemukan bahwa pasangan yang mempunyai anaktekanan darahnya secara signifikan akan lebih rendah dibandingkan mereka yang tanpa keturunan.
2Kesehatan mental
Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat saat ini, anak sering kali membuat orangtua menjadi stres karena kelakuan nakal mereka. Namun
hasil penelitian di Mental Health Foundation, Taiwan, menunjukkan, kehadiran anak justru akan membuat orangtua terlihat lebih sehat secara mentalSebuah organisasi baru telah mewawancarai 1.084 keluarga yang dipilih secara acak, dan ditemukan bahwa kesehatan mental dari keluarga yang tidak memiliki anak 6,4 poin lebih rendahdibandingkan mereka yang memiliki anak.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki anak lebih bahagia dan memiliki kepuasanemosional yang lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memiliki anak," kata Tom Yang, peneliti utama studi tersebut.
3. Memperbarui pengetahuan
Siapa pun yang memiliki anak bisa membuktikan bahwa kata
-kata yang sering diucapkan seorang anak adalah "mengapa. Anak-anak pada dasarnya selalu mempunyai rasa ingin tahu yang besar, misalnya saja seperti, "Mengapa mata kucing bersinar saat malam hari?" "Kenapa bau begitu segar setelah hujan," dan lain sebagainya.
Sebagai orangtua, Anda tentu harus dapat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan si kecil dengan sebuah jawaban yang masuk akal. Secara tidak langsung, Anda telah diarahkan untukmemoles pengetahuan dengan kembali mempelajari sesuatu.
4. Anak sebagai alasan
Banyak p
ria lajang yang sering mengeluh bahwa teman-teman mereka yang sudah menikah dan memiliki anak sangat sulit untuk diajak hang-out. Hal ini terjadi karena kebanyakan orangtua menggunakan anak-anak mereka sebagai alasan untuk menghindar dari kegiatan sosial yang tidak diinginkan.
5. Meningkatkan harga diri  Siapa pun yang memiliki anak pasti akan merasa bangga dan puas ketika anaknya memberikan suatu ucapan positif, misalnya, "Kau adalah ayah terbaik di seluruh dunia". Ucapan seperti ini pastinya akan memiliki efek mendalam pada harga diri Anda sebagai orangtua. Hal ini memungkinkan Anda untuk menyelesaikan segala bentuk pekerjaan, yang menurut perkiraan Anda sebelumnya tidak mungkin, menjadi mungkin.

6. Lebih bahagiaPara orangtua sudah sejak lama beranggapan bahwa sebuah keturunan akan membuat mereka jauh lebih bahagia. Baru-baru ini, ada sebuah studi yang mendukung klaim tersebut. Sebuah studi yang dilakukan Max Planck Institute for Demographic menemukan korelasi langsung antara kehadiran anak dan kebahagiaan orangtua di atas usia 40 tahun.

Peneliti menyurvei 200.000 orang di 86 negara antara tahun 1981 dan 2005 dan menemukan bahwa pada usia 40 tahun, orangtua dengan 1-3 anak merasa jauh lebih bahagia dibandingkan pasangan yang tidak memiliki anak. Bahkan ketika usia 50 tahun, orangtua yang memiliki anak akan lebih bahagia daripada pasangan yang tanpa anak. Temuan ini tidak mengherankan. Pasalnya, kebanyakan orangtua akan lebih mudah merawat anak ketika mereka tumbuh dewasa.